Pertarungan
by adrozenahmad
DUNIA sosial adalah arena pertarungan, kata Bourdieu. Dalam terma yang lebih diperhalus, barangkali, seperti yang dikatakan oleh Johan Huizinga, dunia sosial merupakan arena permainan. Dengan demikian, ia menyebut manusia sebagai homo ludens, manusia bermain. Namun tetap saja, di mana ada permainan di situ ada pertarungan, begitupun sebaliknya.
Masalah pertarungan ini, secara kenes ditunjukkan oleh Fyodor Mikhailovitsy Dostoyevski dalam satu di antara novel-novelnya, Notes from Underground atau Catatan dari Bawah Tanah. Sebuah novel yang agak tak “lazim”, yang diterjemahkan oleh Asrul Sani dengan sangat indah itu. Sebuah novel yang mengingatkan kita pada metafora goa Plato, plato’s cave.
Novel ini tak tebal dan hanya terdiri atas dua bagian. Tapi itu sudah lebih dari sekadar cukup untuk membikin bingung jika kita hanya—dan hanya—mencari jalan “cerita”. Jika kita hanya memburu poetica. Karena pada dasarnya, Dostoyevski mengaduk-aduk antara poetica dan rhetorica dalam bagian itu.
Sehingga, di bagian pertama novel itu, Dostoyevski seolah curhat, menelanjangi pikirannya sendiri—tapi bukankah seorang penulis sastra yang baik adalah seorang pencurhat yang baik? Entahlah. Sederhananya, ia ngomong seenaknya, ngelantur ke mana-mana. Mirip kata pendahuluan atau tulisan latar belakang ketika kita hendak menulis artikel ilmiah, bisa saja begitu.
Tapi justru menariknya di situ. Pada bagian pendahuluan dari novel itu, seolah waktu menjadi beku. Ia, tokoh “aku”, berusaha keras memeriksa isi otaknya. Setelah itu, ia mengutuk, memuji, lantas kembali mengutuk, dan begitu seterusnya. Dan, pemeriksaan terhadap isi dalam pikirannya itu ternyata membuat ia menderita. Sebuah penderitaan lelaki terpelajar abad kesembilan belas kita yang malang ini, kata Dostoyevski.
Baru pada bagian kedua, ia menuliskan kisahnya. Lebih tepatnya, ia melibatkan “yang lain”, “the other”, “liyan”. Di bagian ini, ia mengizinkan waktu kembali cair, mengalir. Sehingga, kronologi, urutan-urutan peristiwa kembali menguasai cerita. Dan sebagai pembaca, kita boleh tersenyum senang, dengan perasaan seolah telah terbebas dari “kekerasan” analisis pada bagian pertama, yang rupa-rupanya dijadikan Dostoyevski sebagai semacam alasan ia menulis.
Dalam pengertian Derrida, bagian pertama ini merupakan “…this dangerous supplement…” dari bagian kedua. Jadi tidak ada salahnya jika kita tiba-tiba merasa untuk cukup “waspada”.
Catatan dari Bawah Tanah merupakan kisah seorang juru taksir yang keluar dari institusi tempat ia bekerja setelah mengabdi di tempat itu selama duapuluh tahun. Sebuah rentang “pengabdian” yang cukup panjang. Tokoh “aku” yang memerankan juru taksir itu, bekerja sejak ia berusia duapuluh tahun. Dengan demikian, ia keluar dari pekerjaan di usianya yang keempatpuluh.
Baginya, usia empatpuluh sama dengan seluruh kehidupan seseorang. Tentu saja itu adalah klaim. Seperti halnya klaim tokoh “aku” dalam novel tersebut, yang merasa lebih pintar dari siapapun di muka bumi ini. Dan akibat dari itu pula, ia akhirnya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan, karena memandang bahwa orang-orang di sekitarnya memiliki inteligensia yang kurang dari dirinya. Sesuatu yang—satu di antaranya—membuat dia menjadi begitu angkuh, penuh rasa benci, dan muak pada semuanya, termasuk dirinya sendiri.
Dalam bagian pertama ini, Dostoyevski seolah mengingatkan kita lagi bahwa pertarungan itu mulanya ada dalam pikiran kita. Yang kemudian berkembang menjadi pertarungan antar-individu—sebelum akhirnya menjadi pertarungan antara individu melawan kelompok, dan kelompok melawan kelompok lainnya. Makanya, tak heran jika saat kita berpikir keras, kita menamakannya sebagai praktik brain- storming. Semakin keras kita berpikir, kian dahsyat badai yang bergemuruh dalam pikiran kita.
Pertarungan “domestik” itu, “badai” lokal itu, adalah pertarungan antara subjek dan objek. Dalam semiologi, barangkali antara signifiant melawan signifiant. Dalam rhetorica, kita menyebutnya sebagai pertarungan antara satu gagasan melawan gagasan yang lain. Antara Dasein dan Dasein, barangkali begitu kata Heidegger. Sebuah pertarungan yang khas filsafat, lebih tepatnya, khas metafisika.
Tentunya, bagi kita yang kurang terlatih dan terbiasa olehnya, akan dibikin bingung dan pusing tujuh keliling—bahkan lebih. Karena ini adalah pertarungan simbolik. Pertarungan yang paling “halus”. Pertarungan semacam itu, dalam psikoanalisis adalah pertarungan antara kondisi “mimpi” dan “terjaga”. Sederhananya, pertarungan antara kesadaran [consciousness] dan ketidaksadaran [unconsciousness]. Dan pikiran kita, sekali lagi, adalah arenanya.
“Tapi percayalah, Tuan-tuan”, kata Dostoyevski, “adalah penyakit bagi kita kalau kita jadi terlalu sadar—penyakit yang betul-betul parah.”
Dan benar adanya, kesadaran merupakan sebuah penyakit. Penyakit bagi ketidaksadaran. Begitu pula sebaliknya; “ketidaksadaran” merupakan sebuah penyakit bagi “kesadaran”. Tergantung dari mana kita memulainya. Atau, kalau kita mau, ini adalah pertarungan antara “kesadaran” melawan “kesadaran” yang lain, atau antara “ketidaksadaran” melawan “ketidaksadaran” yang lain.
Seperti halnya sebuah kritik yang menjelma menjadi virus, parasit yang tak henti-hentinya mengganggu tubuh biologis kita. Kritik, adalah sebuah virus karena ia bisa merusak bangunan gagasan, keyakinan, sehingga menggerogoti ideo-logi kita. Sebuah dialektika pergeseran-pergeseran dari yang “real” ke yang “fantasi”, kata Zizek, dan begitu sebaliknya.
Kritik, sederhananya, bisa juga kita maknai sekadar sebagai “suara” berisik dari rumah tetangga sebelah, yang dengan demikian, mengganggu “tidur” siang kita. Sesederhana itu. Atau kehadiran seorang perempuan cantik, seksi, memakai rok mini [barangkali], yang tiba-tiba melintas di tengah suasana majelis taklim yang takzim, atau sekadar melintas di depan meja tempat kita ngobrol—sebuah obrolan yang tak kalah khidmat dari majelis taklim, tentu saja, bahkan lebih khidmat—di sebuah kedai kopi.
Dan virus itu, dekonstruksi itu, kata Derrida, bukan berasal dari luar. Melainkan dari dalam. Dari bangunan gagasan itu. Dari kokohnya keyakinan kita. Dari ideologi yang mengerak dalam pikiran kita. Dalam pengertian apa pun yang dikandung oleh kata “ideo-logi” itu. Atau, dalam kosa-kata khas film-film Hollywood, yakni sebuah brain-washing, pencucian otak.
Sehingga, sebagai anak dari abad pencerahan, Dostoyevski tak mengelak untuk mengakui bahwa ia menderita karena terlalu [banyak] “melihat” fenomena di sekitarnya, ia menderita karena telah menjadi terlalu “sensitif”. Meski ia membenci orang-orang yang sekadar memiliki commonsense, tingkat kesadaran orang rata-rata, namun dalam hati kecilnya ia sangat iri hati terhadap mereka.
Menurut Dostoyevski, orang-orang itu tampak begitu “damai”, meski “dungu”. Mereka seolah tak terlalu merasa terusik oleh “virus-virus” dalam pikiran mereka. Mereka itu, mengutip Bourdieu, manusia yang penuh dengan dokilitas [docility; doxa]. Tapi mereka bahagia, meski tidak sepenuhnya “existz”.
Tapi, toh Dostoyevski tidaklah berpikir tanpa sabuk pengaman. Dalam keliaran pemikirannya, dalam fenomena “kejatuhan” dan “kebangkitannya” saat bergelut dan bertarung dengan diri sendiri, dengan pikiran sendiri, ia masih berpegang pada dua prinsip. Yakni pada “yang baik dan indah”.
Kita tidak tahu apa yang dimaksud Dostoyevski dengan yang “baik” dan yang “indah” itu. Karena ia juga tidak memberitahu kita. Tapi bolehlah kita menerka-nerka, sedikit bersenang-senang dengan berspekulasi. Yakni, bahwa, meski kita, anak zaman abad pencerahan ini, yang dulu orang sebut sebagai modern dan kini kita menyebutnya sebagai “postmodern”, meski menderita karena terlalu “melihat”, terlalu “ sadar”, terlalu “sensitif”, namun penderitaan itu adalah “baik” dan “indah”.
Atau, dalam pengertian yang lain, bahwa pertempuran-pertempuran, pertarungan-pertarungan antara “kesadaran” dan “ketidaksadaran” dalam diri kita, seberapa pun menyakitkannya, adalah “baik dan indah” dalam dirinya. Yang “baik” dan “indah” itu, dengan demikian, menjadi semacam raison d’etre bagi Dostoyevski.
Atau, boleh jadi juga begini; bahwa yang “baik” dan “indah” itu pun bisa kita artikan sebagai kondisi keberimbangan, antara kebutuhan kita pada “gelap” dan “terang”. Sama artinya, barangkali, bahwa kita membutuhkan kondisi “terjaga” sebanyak kita membutuhkan kondisi “tidur”.
“Ha-ha-ha, nanti bahkan kau akan menemui kenikmatan dalam sakit gigi,” ejek Dostoyevski.
Dan memang kita butuh untuk bermain dan bertarung dalam permainan sosial. Butuh untuk sekali-kali tenggelam dalam permainan, dalam pertarungan, dalam ketidaktahuan, dalam kegelapan, dalam ketaksadaran. Dan dalam ketenggelaman itu, kita akan menemukan kenikmatan. Bahkan dalam ketenggelaman oleh rasa sakit yang diakibatkan sakit gigi, misalnya.
Karena terlalu “sadar” itu sangat membosankan, kata Dostoyevski. Sama membosankannya jika kita terlalu “tidak-sadar”. Barangkali, karena keduanya sama-sama bermakna ‘tenggelam terlalu dalam’. Terlalu lama. Monoton, kata orang.
Namun perlu diingat, kata Bourdieu, saat kita tenggelam dalam kolam permainan itu, “haram” bagi kita untuk mempertanyakan substansi dari permainan. Karena, itulah logika permainan, pertarungan, praktik, tindakan; sebuah “ketidaksadaran”. Berbeda jika saat kita mengevaluasi diri, menyambangi isi pikiran kita. Di saat itu, kondisi con-scious-lah yang berperan di situ.
Dengan demikian, saat kita bermain, sebaiknya, kita tidak merefleksikan permainan kita, kecuali setelah permainan usai, setelah kita berada di luar permainan. Biar permainanmu berlangsung lancar dan tidak tersendat-sendat, kata orang. Karena, dalam bermain, selalu saja, yang kita lakukan adalah proyeksi, bukan refleksi. Dalam bermain, bertarung, kita mengandaikan masa depan, l’avenir, kata Derrida. Atau hope, kata Heidegger.
Dan demi permainan, demi mendapatkan kenikmatan dalam pertarungan-pertarungan, demi merasakan adanya hope, katakanlah begitu, Dostoyevski akhirnya menulis;
“…Menulis [sastra] akan menjadi semacam pekerjaan bagiku. Kata orang, pekerjaan [‘work’ dan bukan sekadar ‘labor’] membuat orang [boleh berharap] jadi ramah dan jujur. Nah, inilah kesempatanku…”
Untuk itu, mari “bermain”… Mari “bertarung”…