<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>kisah</title>
	<atom:link href="http://sarstraku.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sarstraku.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 24 Oct 2011 18:38:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sarstraku.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>kisah</title>
		<link>http://sarstraku.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sarstraku.wordpress.com/osd.xml" title="kisah" />
	<atom:link rel='hub' href='http://sarstraku.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Mas Mustahar</title>
		<link>http://sarstraku.wordpress.com/2011/10/22/mas-mustahar/</link>
		<comments>http://sarstraku.wordpress.com/2011/10/22/mas-mustahar/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Oct 2011 18:10:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adrozenahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anal-isis]]></category>
		<category><![CDATA[Bendoro Raden Mas Mustahar]]></category>
		<category><![CDATA[Masa Kecil Pangeran Diponegoro]]></category>
		<category><![CDATA[Nyai Ageng]]></category>
		<category><![CDATA[Pangeran Diponegoro]]></category>
		<category><![CDATA[Perang Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Peter Carey]]></category>
		<category><![CDATA[Ratu Ageng]]></category>
		<category><![CDATA[Ratu Kedhaton]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sarstraku.wordpress.com/?p=140</guid>
		<description><![CDATA[LAYAKNYA singa muda, Mustahar kecil mengikuti “induknya” meninggalkan kemegahan kotapraja. Sedini di usia tujuh tahun itu, ia mestinya telah rela. Meninggalkan kemapanan istana menuju sebuah dusun yang belumlah bernama. Mustahar adalah nama kecil Pangeran Diponegoro. Lengkapnya, Bendoro Raden Mas Mustahar. Tokoh utama Perang Jawa yang menggemparkan itu. Kita memang telah mengenal betapa gegap-gempitanya putra Sultan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sarstraku.wordpress.com&amp;blog=5492424&amp;post=140&amp;subd=sarstraku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>LAYAKNYA singa muda, Mustahar kecil mengikuti “induknya” meninggalkan kemegahan kotapraja. Sedini di usia tujuh tahun itu, ia mestinya telah rela. Meninggalkan kemapanan istana menuju sebuah dusun yang belumlah bernama.</p>
<p>Mustahar adalah nama kecil Pangeran Diponegoro. Lengkapnya, Bendoro Raden Mas Mustahar. Tokoh utama Perang Jawa yang menggemparkan itu. Kita memang telah mengenal betapa gegap-gempitanya putra Sultan Hamengku Buwono III itu di medan laga, namun tak banyak yang kita tahu tentang masa kecilnya: <em>the decisive moment-</em>nya.</p>
<p><span id="more-140"></span>Sebelum ia pindah ke Tegalreja, tak banyak gambaran yang tersedia. Dari Peter Carey, sejarawan Amerika Serikat itu, kita hanya mendapatkan lukisan bahwa sang pangeran kecil tiba-tiba saja dibopong nenek buyutnya, Ratu Ageng, istri Sultan Mangkubumi, ke sebuah dusun yang kelak bernama Tegalreja. Sejarak tiga kilometer barat Keraton Yogyakarta. Sebelum itu, tak banyak informasi yang kita punya.</p>
<p>Dalam goresan tinta Peter Carey-lah Diponegoro menjelma dalam imaji kita sebagai sosok yang bukan sekadar seorang Jawa. Ia tiba-tiba mengejawantah bak Napoleon Bonaparte. Diponegoro muncul sebagai penanda dari rentetan ekses Revolusi Prancis di Jawa.</p>
<p>Dan, di permulaan buku tebalnya yang indah itu <em>The Power of Prophecy</em>, untuk alasan itulah murid sejarawan Australia Merle Calvin Ricklefs ini mulai menorehkan tinta emasnya.</p>
<p>Barangkali takdir itu betul-betul ada. Jika memang demikian, sang Takdir itulah yang menyorongkan tangan ilahiah-nya membimbing Mustahar kecil untuk mendapatkan didikan istimewa dari seorang wanita terhormat ksatria-pandita sekaliber Ratu Ageng.</p>
<p>Keras bagai rotan, memang. Disiplin dan lurus sekaligus sederhana. Namun, di tangan Ratu Ageng-lah, Mustahar kecil dipahat. Dengan separuh keanggunanan wanita bangsawan dan separuh kedisiplinan ksatria Jawa, Mustahar tumbuh menjadi seorang Diponegoro. Sosok yang oleh kakek buyutnya, sang pendiri Mataram Dinasti Yogyakarta, Mangkubumi, diramal sebagai cicit yang kelak membikin lintang pukang pasukan Belanda. Lari terbirit-birit bak sekumpulan domba di padang rumput yang tengah kedatangan tamu seekor harimau lapar.</p>
<p>Membaca Mustahar kecil seolah kita dihadapkan pada sejumlah “kebetulan-kebetulan”. Kepindahan Ratu Ageng dari Keraton menuju Tegalreja dikisahkan bermula dari perseteruannya dengan Sultan Hamengku Buwono II, putranya sendiri. Cekcok itu bahkan terus terpelihara hingga Ratu Ageng menghembuskan napas terakhirnya. Sebuah akhir yang pedih.</p>
<p>Diponegoro dalam babadnya, seperti dikutip oleh Carey, menggambarkan betapa besar kebencian Ratu Ageng terhadap perilaku putranya yang ia anggap telah jauh dari agama. Meski barangkali lebih dari sekadar itu. Yakni, sebuah alasan tak terujarkan yang menjadi semacam <em>l’elan vital</em> atau <em>vital impetus</em> bagi Ratu Ageng, untuk keluar dari kenyamanan istana.</p>
<p>Dengan demikian, kita boleh bernapas lega. Kenapa nama kecil Diponegoro adalah Mustahar. Dalam bahasa Arab, jika memang yang dimaksudkan adalah demikian, Mustahar berarti “penuntut kesucian”, yakni kesucian agama. Dan menuju cita-cita itulah, menghadap “titik api” itulah, Diponegoro kecil dididik bak anggota pasukan khusus.</p>
<p>Dalam interpretasi yang lebih bebas, barangkali, Mustahar kecil diasah menjadi sebilah pedang bagi Ratu Ageng untuk “meluruskan” putranya. Meski di kelanjutan kisah, kita tahu bahwa hasilnya melampaui itu.</p>
<p>Menyelami samudera masa kecil Diponegoro kita pun kian ditarik untuk tenggelam lebih dalam pada banyak aspek yang di luar dugaan. Satu di antaranya yakni bagaimana bangsawan Jawa mendidik anak-anak mereka; peran wanita, “penyerahan” orangtua anak terhadap mereka yang dituakan, kedisiplinan (ksatrian), kesederhanaan, dan pembukaan terhadap jaringan sosial.</p>
<p>Diponegoro kecil tumbuh dari belaian tangan-tangan halus dan lembut sejumlah wanita. Carey mencatat, setidaknya ada tiga wanita agung yang berperan membentuk karakternya. Yakni, Ratu Ageng (<em>garwa padmi</em> Sultan Mangkubumi), Ratu Kedhaton (<em>garwa padmi</em> Sultan Hamengku Buwono II), dan ibunya sendiri, Raden Ayu Mangkarawati (<em>garwa ampeyan</em> Sultan Hamengku Buwono III). Sebuah kesaksian yang seolah membenarkan adagium yang kerap kita dengar; di balik lelaki luar biasa berdiri (sejumlah) wanita yang (jauh) luar biasa.</p>
<p>Wanita bangsawan Jawa pada masa lalu, sebagaimana laki-laki, umumnya menikah pada usia muda. Ibu Diponegoro, ujar Carey, melahirkan sang pangeran kecil pada usia sekitar 14 tahun. Usia yang bahkan terlalu muda bagi perempuan Jawa Modern untuk menikah. Sedikitnya, untuk alasan itulah, sang putra lantas dididik oleh wanita yang lebih tua, yakni nenek buyutnya, Ratu Ageng. Sebuah mekanisme konservasi budaya yang kini telah tiada.</p>
<p>Kita seolah mengenal penanaman kedisiplinan dalam pendidikan (<em>pedagogy</em>) semata merupakan warisan zaman HIS dan MULO dan rezim sekolah-sekolah masa Belanda. Namun masa kecil Diponegoro menisbahkan lain. Setidaknya prinsip itu diperlihatkan oleh Ratu Ageng, dan Ratu Kedhaton—yang merupakan keturunan Panembahan Cakraningrat II dari Madura yang terkenal keras itu—dalam menempa karakter sang pangeran kecil.</p>
<p>Lebih-lebih, kita tahu, Ratu Ageng adalah mantan komandan pasukan elit wanita pengawal raja (pasukan <em>langenkusuma</em>) pada masa Mangkubumi, yang seluruh anggotanya terdiri atas para wanita. Satu-satunya satuan militer, kata Carey, yang berhasil membuat Marshal Herman Willem Daendels berdecak kagum dalam kunjungannya ke Keraton Yogyakarta pada Juli 1809.</p>
<p>Prinsip lainnya yang membuat seorang Mustahar kecil menjelma menjadi lelaki yang tak tergoyahkan; kesederhanaan. Hal itu meruap dalam kenangan Diponegoro tentang Ratu Ageng yang begitu leluasa bergaul dengan semua kalangan di segala struktur masyarakat.</p>
<p>Ia menggambarkan gurunya itu begitu gandrung bercocok tanam di sawah, lepas dari &#8220;bantuan&#8221; finansial dari Keraton, sebesar kesukaannya dalam menelaah literatur-literatur keagamaan. Ratu Ageng juga tersohor dalam manajemen kekayaannya. Sebuah perilaku asketisme yang dalam beberapa tingkatan mendekati asketisme Calvinis.</p>
<p>Dari prinsip yang terakhir itu—kesederhanaan—maka terbukalah jaringan sosial (dan tentu saja menjelma menjadi jaringan politik) ke hampir semua lini dalam struktur masyarakat. Jaringan dari banyak hierarki kelompok inilah yang nantinya, oleh Diponegoro, digunakan sebagai kekuatan besar dalam Perang Jawa.</p>
<p>Meski dukungan terkuat itu berasal dari kalangan pesantren, namun, lebih dari itu, dukungan itu bahkan muncul dari kalangan para <em>jago</em>, pendekar jalanan dan kalangan <em>underworld</em>. Hal itu yang nantinya mampu menjelaskan betapa sang pangeran, konon, kewalahan mengontrol kebengisan pasukan-pasukannya di medan laga maupun sepanjang gerilya mereka selama masa Perang Jawa.</p>
<p>Ada satu hal yang sangat menarik dari itu semua. Yakni, bahwa Mustahar kecil itu, anak “desa” itu, yang besar di tengah kesederhanaan kalangan petani dan orang biasa itu, telah melakukan sebuah percobaan “revolusi”. Sebuah tindakan yang pernah dilakukan oleh leluhurnya, Sultan Agung, dan kakek buyutnya Sultan Mangkubumi, meski dalam taraf yang berbeda-beda.</p>
<p>Dan pola seperti itu seolah senantiasa berulang-ulang. Spirit tentang harapan sebuah “keterpenuhan” selalu saja diawali oleh “kekosongan”, “ketiadaan”, “kelemahan” dan dengan demikian “kesederhanaan”. Sebuah spirit yang sangat terkesan asketik.</p>
<p>Hal itu, sekali lagi, mengingatkan kita pada interpretasi Jaqcues Derrida dalam <em>of Grammatology</em> atas karya Jean-Jaqcues Rousseau, <em>Confession</em>. Interpretasi itu, Derrida namakan sebagai<em> &#8220;writing in differant</em>&#8220;. Sebuah frasa yang cukup untuk memahami epik kebersejarahan manusia. Bahkan untuk memahami hal-hal paling kecil dalam keseharian kita.</p>
<p>Namun, lebih dari itu, mengikuti Derrida pula, kisah tentang Diponegoro adalah sebuah teks. Begitu juga dengan segala yang berhubungan dengan masa lalu. Masa lalu sebagai teks, tentu saja menawarkan interpretasi yang luar biasa banyaknya.Karena ia telah menjadi mitos.  Dan semuanya mengarah pada dua hal, ia sebagai obat sekaligus racun.</p>
<p>Jika kita memilih yang pertama, kita akan mampu menatap <em>l’avenir</em>, masa yang akan datang, dengan kepala tegak. Jika yang kedua yang kita pilih, tak ayal, ia akan menghancurkan kita, membunuh kita, menghancurkan masa depan kita. Dan apalagi yang bisa kita punya selain masa depan ketika masa lalu telah secara utuh melumat-lumat habis kita?</p>
<p>Diponegoro adalah teks. Dengan demikian ia dipenuhi kontroversi antara keber-ada-annya sebagai pahlawan dan pemberontak. Begitu juga dengan &#8220;kegagalannya&#8221;. Tapi di balik itu semua, ia adalah penanda, <em>signifiant</em>. Bahwa, di dalam kondisi “kekalahan” kita, tak ada kata “menyerah” sebelum genderang &#8220;perang&#8221; mengumandang.</p>
<p>Dan Diponegoro memang akhirnya gagal. Dan sungguh, itu sudah ia ketahui sedari mula. Namun, seperti halnya suara gaib tak bertubuh yang ia dengar saat ia bersemedi di pantai laut selatan, ia yakin. Bahwa apa yang ia lakukan, peperangan yang ia kobarkan, tak akan berlangsung lama. Hanya “sekadar” titik api dalam rentang sejarah panjang anak manusia. Noktah di samudera untuk diperhatikan oleh para “keturunan”-nya. Yakni, kita.</p>
<p>Dan, sekali lagi, kita sendirilah yang memegang “teks” itu. Apakah itu akan kita perlakukan sebagai obat atau malah sebaliknya, sebagai racun. (*)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sarstraku.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sarstraku.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sarstraku.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sarstraku.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sarstraku.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sarstraku.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sarstraku.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sarstraku.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sarstraku.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sarstraku.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sarstraku.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sarstraku.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sarstraku.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sarstraku.wordpress.com/140/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sarstraku.wordpress.com&amp;blog=5492424&amp;post=140&amp;subd=sarstraku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sarstraku.wordpress.com/2011/10/22/mas-mustahar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8ea5dde6607d1f572617720c62417485?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zen</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pertukaran</title>
		<link>http://sarstraku.wordpress.com/2011/10/06/pertukaran/</link>
		<comments>http://sarstraku.wordpress.com/2011/10/06/pertukaran/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Oct 2011 13:46:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adrozenahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anal-isis]]></category>
		<category><![CDATA[Fyodor Mikhailovitsy Dostoyevski]]></category>
		<category><![CDATA[Sultan Mangkubumi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sarstraku.wordpress.com/?p=126</guid>
		<description><![CDATA[KONON, jika diplomasi dengan utusan Belanda tersendat Sultan Mangkubumi akan mengakhirinya dengan menggelar pertunjukan; pertarungan antara kerbau dan harimau di alun-alun utara Yogyakarta. Dalam pertarungan itu, selalu saja kerbau menang dan harimau kalah. Sebuah hasil yang senantiasa bikin Mangkubumi menyungging senyum. Kita tahu, kerbau merupakan representasi Jawa. Sedangkan harimau adalah simbol Belanda. Kerbau lambat namun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sarstraku.wordpress.com&amp;blog=5492424&amp;post=126&amp;subd=sarstraku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>KONON, jika diplomasi dengan utusan Belanda tersendat Sultan Mangkubumi akan mengakhirinya dengan menggelar pertunjukan; pertarungan antara kerbau dan harimau di alun-alun utara Yogyakarta. Dalam pertarungan itu, selalu saja kerbau menang dan harimau kalah. Sebuah hasil yang senantiasa bikin Mangkubumi menyungging senyum.</p>
<p>Kita tahu, kerbau merupakan representasi Jawa. Sedangkan harimau adalah simbol Belanda. Kerbau lambat namun tahan lama dan kuat. Sedangkan harimau lincah tapi cepat lelah. Hingga Sultan Mangkubumi wafat, kata sejarawan Australia Merle Calvin Ricklefs, kemungkinan besar Belanda masih belum mengerti makna pertarungan itu.</p>
<p><span id="more-126"></span>Logika kalah-menang tentu saja bukan sekadar monopoli dunia olahraga. Di dalam ruang sosial kita pun mengenal kedua kata itu. Ia berperan memberi pemaknaan terhadap segala macam hubungan. Terlebih dalam politik. Di mana logika pertukaran [<em>exchage</em>] begitu terasa.</p>
<p>Bagian kedua dari novel<em> Catatan dari Bawah Tanah</em> karya Fyodor Mikhailovitsy Dostoveyski, seolah menawarkan adegan yang kurang lebih senada. Seorang individu, yang diwakili oleh “aku”, yang tengah mati-matian berjuang melawan diri yang lain; masyarakat. Dalam artian, kelompok.</p>
<p>Analogon “masyarakat” di sini terepresentasi dalam konsensus yang terjalin di antara keempat kawan lama si tokoh “aku”, yakni Simonov, Trudolyubov, Ferfitckin dan Zverkov. Mereka, empat sekawan itu, dapat dianalogikan sebagai sebuah masyarakat karena memiliki struktur dan hierarki. Tentu saja, dalam hal ini, Zverkov-lah yang menduduki struktur tertinggi dalam hierarki tersebut.</p>
<p>Hierarki dalam struktur pertemanan ini, seperti kata Pierre Bourdieu, ditentukan oleh kapital kultural dan kapital-kapital yang lain yang dimiliki oleh masing-masing partisipan. Dan bukan kebetulan jika Dostoyevski memilih latar cerita di mana para tokoh-tokohnya adalah <em>apparatus</em> tentara. Karena di ranah militer hierarki itu begitu nyata.</p>
<p>Gagasan tentang hierarki dalam kelompok ini membawa kita pada logika ekonomisme; logika pertukaran dan pasar. Layaknya sebuah pasar, individu-individu dalam kelompok berkumpul dalam ruang dan waktu yang sama dan meng-“harga”-i diri sendiri, lantas memberi harga pada yang lain. Entah revaluasi, entah devaluasi. Dan ia, individu yang memiliki kapital yang lebih besar dari lainnya akan menang dalam pertaruhan tubuh itu.</p>
<p>Dan ketika tokoh “aku” masuk dalam kelompok keempat sekawan itu, ia tidak punya harga sama sekali. Karena ia tak cukup modal; seorang juru taksir yang berada di tengah-tengah sejumlah perwira muda. Ia hadir tapi tak eksis. Dalam istilah Derrida, sekali lagi, tokoh “aku” dianggap <em>under erasure</em>. Ia, kata para ekonom, telah terdevaluasi secara total.</p>
<p>Hal itu dengan tanpa ampun dikisahkan oleh Dostoyevski dalam kondisi keuangan tokoh “aku” yang miskin papa. Yang datang kepada kawan lamanya, Simonov, untuk meminjam uang demi masa lalu persahabatan mereka. Namun sialnya, ia malah terjerumus dalam relasi kuasa yang jauh melebihi kapasitasnya. Yang pada akhirnya, membuat ia tak “dihargai” dan di saat yang sama, ia sendiri juga tak mampu untuk mem-”beli”.</p>
<p>Dalam hal ini, dunia sosial memang nampak begitu kejam. Ia adalah jelmaan dari sebuah permainan judi di mana kita sendiri adalah taruhan-taruhannya. Dan yang paling sadar terhadap logika ekonomisme semacam ini adalah kaum politisi profesional. Mereka tahu bahwa mereka sedang bermain, dan mereka sadar bahwa mereka sendirilah taruhan dari permainan itu.</p>
<p>Maka, bersyukurlah jika kita menang dalam permainan ini. Namun jika kita kalah, jalan paling mudah adalah dengan mem-vulgar-kan pertarungan. Mengubah pertarungan antar-gagasan menjadi pertarungan antar tubuh. Yakni, duel.</p>
<p>Yang demikian inilah yang secara dramatis menimpa diri tokoh “aku”. Setelah dirinya merasa tak dihargai, dianggap tidak “mengada”, tidak <em>existz</em>, kata Popper, tiba-tiba pikiran untuk mengajak duel kawan-kawannya muncul dalam kepala. Di tengah hujan salju nan lebat, di atas kereta kuda ia membelah kota dengan hati yang penuh amarah dan menjadi gila oleh fantasi sebuah pertarungan yang sempurna: Sebuah upaya merebut &#8220;harga&#8221; dirinya.</p>
<p>Dari sini kita mencatat, barangkali tak banyak orang yang siap kalah. Semua orang, termasuk kita, umumnya sekadar siap menang. Ingin dihargai tinggi, dengan demikian berkehendak untuk dihormati. Namun kekalahan [terkadang] adalah kemenangan yang tertunda, kata orang bijak. Dan begitu sebaliknya. Akan tetapi, justru kekalahanlah, yang pada akhirnya membuat kita terus belajar. Membuat kita bangun dari mimpi. Dalam kalimat yang lain, kekalahan adalah kritik.</p>
<p>Dan struktur sosial yang penuh dengan klasifikasi dan hierarki ini pun meng-“kelas-kelas”-kan strukturnya. Tak terkecuali pertarungan. Dan tentu saja, pertarungan antar-gagasan dipandang lebih terhormat, lebih tinggi nilainya dibanding pertarungan antar-tubuh, yakni duel.</p>
<p>Lantas, kita seolah sepakat. Bahwa semua pertarungan yang langsung berhubungan dengan tubuh adalah vulgar, rendahan. <em>Ngono yo ngono, ning ojo ngono</em>, kata orang Jawa. Dalam semiotika, barangkali, entitas yang dipandang tinggi secara sosial adalah entitas yang mengandung <em>signifie</em> yang unggul secara kuantitas, dibanding entitas yang lain.</p>
<p>Dan tokoh “aku” dalam novel Dostoyevski, tentu saja bukanlah Mangkubumi. Tokoh “aku”, mempertaruhkan dirinya hingga ke aspek yang paling kasat mata; tubuh. Meski belakangan kita tahu, ternyata hal itu pun gagal. Sedangkan Mangkubumi, secara cerdas mengubah entitas pertarungan antar-tubuh sebagai pertarungan antar-tubuh yang lain. Pertarungan antara kerbau dan harimau.</p>
<p>Dengan demikian, kita mafhum. Kenapa Sultan Mangkubumi, raja pertama Mataram dari trah Yogyakarta ini, mempertarungkan kerbau dan harimau tatkala gagasannya tidak diterima oleh utusan pemerintah Hindia Belanda. Karena, dalam pertarungan itu ia bertaruh. Dan dalam pertaruhan itu, ia mampu memastikan bahwa ia akan selalu menang.</p>
<p>Dan kemenangan Mangkubumi itu barangkali adalah kemenangan yang khas Jawa, sebuah kemenangan simbolik. Yakni, <em>menang tanpo ngasorake</em>. [*]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sarstraku.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sarstraku.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sarstraku.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sarstraku.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sarstraku.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sarstraku.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sarstraku.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sarstraku.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sarstraku.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sarstraku.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sarstraku.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sarstraku.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sarstraku.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sarstraku.wordpress.com/126/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sarstraku.wordpress.com&amp;blog=5492424&amp;post=126&amp;subd=sarstraku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sarstraku.wordpress.com/2011/10/06/pertukaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8ea5dde6607d1f572617720c62417485?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zen</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pertarungan</title>
		<link>http://sarstraku.wordpress.com/2011/09/24/pertarungan/</link>
		<comments>http://sarstraku.wordpress.com/2011/09/24/pertarungan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Sep 2011 04:38:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adrozenahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anal-isis]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan dari Bawah Tanah]]></category>
		<category><![CDATA[Fyodor Dostoyevski]]></category>
		<category><![CDATA[Notes From Underground]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sarstraku.wordpress.com/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[DUNIA sosial adalah arena pertarungan, kata Bourdieu. Dalam terma yang lebih diperhalus, barangkali, seperti yang dikatakan oleh Johan Huizinga, dunia sosial merupakan arena permainan. Dengan demikian, ia menyebut manusia sebagai homo ludens, manusia bermain. Namun tetap saja, di mana ada permainan di situ ada pertarungan, begitupun sebaliknya. Masalah pertarungan ini, secara kenes ditunjukkan oleh Fyodor [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sarstraku.wordpress.com&amp;blog=5492424&amp;post=104&amp;subd=sarstraku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>DUNIA sosial adalah arena pertarungan, kata Bourdieu. Dalam terma yang lebih diperhalus, barangkali, seperti yang dikatakan oleh Johan Huizinga, dunia sosial merupakan arena permainan. Dengan demikian, ia menyebut manusia sebagai <em>homo ludens</em>, manusia bermain. Namun tetap saja, di mana ada permainan di situ ada pertarungan, begitupun sebaliknya.</p>
<p>Masalah pertarungan ini, secara kenes ditunjukkan oleh Fyodor Mikhailovitsy Dostoyevski dalam satu di antara novel-novelnya, <em>Notes from Underground</em> atau Catatan dari Bawah Tanah. Sebuah novel yang agak tak “lazim”, yang diterjemahkan oleh Asrul Sani dengan sangat indah itu. Sebuah novel yang mengingatkan kita pada metafora goa Plato, <em>plato’s cave</em>.</p>
<p><span id="more-104"></span>Novel ini tak tebal dan hanya terdiri atas dua bagian. Tapi itu sudah lebih dari sekadar cukup untuk membikin bingung jika kita hanya—dan hanya—mencari jalan “cerita”. Jika kita hanya memburu <em>poetica</em>. Karena pada dasarnya, Dostoyevski mengaduk-aduk antara <em>poetica</em> dan<em> rhetorica</em> dalam bagian itu.</p>
<p>Sehingga, di bagian pertama novel itu, Dostoyevski seolah curhat, menelanjangi pikirannya sendiri—tapi bukankah seorang penulis sastra yang baik adalah seorang pencurhat yang baik? Entahlah. Sederhananya, ia ngomong seenaknya, ngelantur ke mana-mana. Mirip kata pendahuluan atau tulisan latar belakang ketika kita hendak menulis artikel ilmiah, bisa saja begitu.</p>
<p>Tapi justru menariknya di situ. Pada bagian pendahuluan dari novel itu, seolah waktu menjadi beku. Ia, tokoh “aku”, berusaha keras memeriksa isi otaknya. Setelah itu, ia mengutuk, memuji, lantas kembali mengutuk, dan begitu seterusnya. Dan, pemeriksaan terhadap isi dalam pikirannya itu ternyata membuat ia menderita. Sebuah penderitaan lelaki terpelajar abad kesembilan belas kita yang malang ini, kata Dostoyevski.</p>
<p>Baru pada bagian kedua, ia menuliskan kisahnya. Lebih tepatnya, ia melibatkan “yang lain”, “the other”, “liyan”. Di bagian ini, ia mengizinkan waktu kembali cair, mengalir. Sehingga, kronologi, urutan-urutan peristiwa kembali menguasai cerita. Dan sebagai pembaca, kita boleh tersenyum senang, dengan perasaan seolah telah terbebas dari “kekerasan” analisis pada bagian pertama, yang rupa-rupanya dijadikan Dostoyevski sebagai semacam alasan ia menulis.</p>
<p>Dalam pengertian Derrida, bagian pertama ini merupakan<em> “…this dangerous supplement…” </em> dari bagian kedua. Jadi tidak ada salahnya jika kita tiba-tiba merasa untuk cukup “waspada”.</p>
<p>Catatan dari Bawah Tanah merupakan kisah seorang juru taksir yang keluar dari institusi tempat ia bekerja setelah mengabdi di tempat itu selama duapuluh tahun. Sebuah rentang “pengabdian” yang cukup panjang. Tokoh “aku” yang memerankan juru taksir itu, bekerja sejak ia berusia duapuluh tahun. Dengan demikian, ia keluar dari pekerjaan di usianya yang keempatpuluh.</p>
<p>Baginya, usia empatpuluh sama dengan seluruh kehidupan seseorang. Tentu saja itu adalah klaim. Seperti halnya klaim tokoh “aku” dalam novel tersebut, yang merasa lebih pintar dari siapapun di muka bumi ini. Dan akibat dari itu pula, ia akhirnya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan, karena memandang bahwa orang-orang di sekitarnya memiliki inteligensia yang kurang dari dirinya. Sesuatu yang—satu di antaranya—membuat dia menjadi begitu angkuh, penuh rasa benci, dan muak pada semuanya, termasuk dirinya sendiri.</p>
<p>Dalam bagian pertama ini, Dostoyevski seolah mengingatkan kita lagi bahwa pertarungan itu mulanya ada dalam pikiran kita. Yang kemudian berkembang menjadi pertarungan antar-individu—sebelum akhirnya menjadi pertarungan antara individu melawan kelompok, dan kelompok melawan kelompok lainnya. Makanya, tak heran jika saat kita berpikir keras, kita menamakannya sebagai praktik <em>brain- storming</em>. Semakin keras kita berpikir, kian dahsyat badai yang bergemuruh dalam pikiran kita.</p>
<p>Pertarungan “domestik” itu, “badai” lokal itu, adalah pertarungan antara subjek dan objek. Dalam semiologi, barangkali antara <em>signifiant</em> melawan <em>signifiant.</em> Dalam <em>rhetorica</em>, kita menyebutnya sebagai pertarungan antara satu gagasan melawan gagasan yang lain. Antara <em>Dasein</em> dan <em>Dasein</em>, barangkali begitu kata Heidegger. Sebuah pertarungan yang khas filsafat, lebih tepatnya, khas metafisika.</p>
<p>Tentunya, bagi kita yang kurang terlatih dan terbiasa olehnya, akan dibikin bingung dan pusing tujuh keliling—bahkan lebih. Karena ini adalah pertarungan simbolik. Pertarungan yang paling “halus”. Pertarungan semacam itu, dalam psikoanalisis adalah pertarungan antara kondisi “mimpi” dan “terjaga”. Sederhananya, pertarungan antara kesadaran [consciousness] dan ketidaksadaran [unconsciousness]. Dan pikiran kita, sekali lagi, adalah arenanya.</p>
<p>“Tapi percayalah, Tuan-tuan”, kata Dostoyevski, “adalah penyakit bagi kita kalau kita jadi terlalu sadar—penyakit yang betul-betul parah.”</p>
<p>Dan benar adanya, kesadaran merupakan sebuah penyakit. Penyakit bagi ketidaksadaran. Begitu pula sebaliknya; “ketidaksadaran” merupakan sebuah penyakit bagi “kesadaran”. Tergantung dari mana kita memulainya. Atau, kalau kita mau, ini adalah pertarungan antara “kesadaran” melawan “kesadaran” yang lain, atau antara “ketidaksadaran” melawan “ketidaksadaran” yang lain.</p>
<p>Seperti halnya sebuah kritik yang menjelma menjadi virus, parasit yang tak henti-hentinya mengganggu tubuh biologis kita. Kritik, adalah sebuah virus karena ia bisa merusak bangunan gagasan, keyakinan, sehingga menggerogoti ideo-logi kita. Sebuah dialektika pergeseran-pergeseran dari yang “real” ke yang “fantasi”, kata Zizek, dan begitu sebaliknya.</p>
<p>Kritik, sederhananya, bisa juga kita maknai sekadar sebagai “suara” berisik dari rumah tetangga sebelah, yang dengan demikian, mengganggu “tidur” siang kita. Sesederhana itu. Atau kehadiran seorang perempuan cantik, seksi, memakai rok mini [barangkali], yang tiba-tiba melintas di tengah suasana majelis taklim yang takzim, atau sekadar melintas di depan meja tempat kita ngobrol—sebuah obrolan yang tak kalah khidmat dari majelis taklim, tentu saja, bahkan lebih khidmat—di sebuah kedai kopi.</p>
<p>Dan virus itu, dekonstruksi itu, kata Derrida, bukan berasal dari luar. Melainkan dari dalam. Dari bangunan gagasan itu. Dari kokohnya keyakinan kita. Dari ideologi yang mengerak dalam pikiran kita. Dalam pengertian apa pun yang dikandung oleh kata “ideo-logi” itu. Atau, dalam kosa-kata khas film-film Hollywood, yakni sebuah <em>brain-washing</em>, pencucian otak.</p>
<p>Sehingga, sebagai anak dari abad pencerahan, Dostoyevski tak mengelak untuk mengakui bahwa ia menderita karena terlalu [banyak] “melihat” fenomena di sekitarnya, ia menderita karena telah menjadi terlalu “sensitif”. Meski ia membenci orang-orang yang sekadar memiliki <em>commonsense</em>, tingkat kesadaran orang rata-rata, namun dalam hati kecilnya ia sangat iri hati terhadap mereka.</p>
<p>Menurut Dostoyevski, orang-orang itu tampak begitu “damai”, meski “dungu”. Mereka seolah tak terlalu merasa terusik oleh “virus-virus” dalam pikiran mereka. Mereka itu, mengutip Bourdieu, manusia yang penuh dengan dokilitas [docility; doxa]. Tapi mereka bahagia, meski tidak sepenuhnya “existz”.</p>
<p>Tapi, toh Dostoyevski tidaklah berpikir tanpa sabuk pengaman. Dalam keliaran pemikirannya, dalam fenomena “kejatuhan” dan “kebangkitannya” saat bergelut dan bertarung dengan diri sendiri, dengan pikiran sendiri, ia masih berpegang pada dua prinsip. Yakni pada “yang baik dan indah”.</p>
<p>Kita tidak tahu apa yang dimaksud Dostoyevski dengan yang “baik” dan yang “indah” itu. Karena ia juga tidak memberitahu kita. Tapi bolehlah kita menerka-nerka, sedikit bersenang-senang dengan berspekulasi. Yakni, bahwa, meski kita, anak zaman abad pencerahan ini, yang dulu orang sebut sebagai modern dan kini kita menyebutnya sebagai “postmodern”, meski menderita karena terlalu “melihat”, terlalu “ sadar”, terlalu “sensitif”, namun penderitaan itu adalah “baik” dan “indah”.</p>
<p>Atau, dalam pengertian yang lain, bahwa pertempuran-pertempuran, pertarungan-pertarungan antara “kesadaran” dan “ketidaksadaran” dalam diri kita, seberapa pun menyakitkannya, adalah “baik dan indah” dalam dirinya.  Yang “baik” dan “indah” itu, dengan demikian, menjadi semacam <em>raison d’etre</em> bagi Dostoyevski.</p>
<p>Atau, boleh jadi juga begini; bahwa yang “baik” dan “indah” itu pun bisa kita artikan sebagai kondisi keberimbangan, antara kebutuhan kita pada “gelap” dan “terang”. Sama artinya, barangkali, bahwa kita membutuhkan kondisi “terjaga” sebanyak kita membutuhkan kondisi “tidur”.</p>
<p>“Ha-ha-ha, nanti bahkan kau akan menemui kenikmatan dalam sakit gigi,” ejek Dostoyevski.</p>
<p>Dan memang kita butuh untuk bermain dan bertarung dalam permainan sosial. Butuh untuk sekali-kali tenggelam dalam permainan, dalam pertarungan, dalam ketidaktahuan, dalam kegelapan, dalam ketaksadaran. Dan dalam ketenggelaman itu, kita akan menemukan kenikmatan. Bahkan dalam ketenggelaman oleh rasa sakit yang diakibatkan sakit gigi, misalnya.</p>
<p>Karena terlalu “sadar” itu sangat membosankan, kata Dostoyevski. Sama membosankannya jika kita terlalu “tidak-sadar”. Barangkali, karena keduanya sama-sama bermakna ‘tenggelam terlalu dalam’. Terlalu lama. Monoton, kata orang.</p>
<p>Namun perlu diingat, kata Bourdieu, saat kita tenggelam dalam kolam permainan itu, “haram” bagi kita untuk mempertanyakan substansi dari permainan. Karena, itulah logika permainan, pertarungan, praktik, tindakan; sebuah “ketidaksadaran”.  Berbeda jika saat kita mengevaluasi diri, menyambangi isi pikiran kita. Di saat itu, kondisi <em>con-scious</em>-lah yang berperan di situ.</p>
<p>Dengan demikian, saat kita bermain, sebaiknya, kita tidak merefleksikan permainan kita, kecuali setelah permainan usai, setelah kita berada di luar permainan. Biar permainanmu berlangsung lancar dan tidak tersendat-sendat, kata orang. Karena, dalam bermain, selalu saja, yang kita lakukan adalah proyeksi, bukan refleksi. Dalam bermain, bertarung, kita mengandaikan masa depan, <em>l’avenir</em>, kata Derrida. Atau <em>hope</em>, kata Heidegger.</p>
<p>Dan demi permainan, demi mendapatkan kenikmatan dalam pertarungan-pertarungan, demi merasakan adanya <em>hope</em>, katakanlah begitu, Dostoyevski akhirnya menulis;</p>
<p>“…Menulis [sastra] akan menjadi semacam pekerjaan bagiku. Kata orang, pekerjaan [‘work’ dan bukan sekadar ‘labor’] membuat orang [boleh berharap] jadi ramah dan jujur. Nah, inilah kesempatanku…”</p>
<p>Untuk itu, mari “bermain”… Mari “bertarung”…</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sarstraku.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sarstraku.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sarstraku.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sarstraku.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sarstraku.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sarstraku.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sarstraku.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sarstraku.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sarstraku.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sarstraku.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sarstraku.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sarstraku.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sarstraku.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sarstraku.wordpress.com/104/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sarstraku.wordpress.com&amp;blog=5492424&amp;post=104&amp;subd=sarstraku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sarstraku.wordpress.com/2011/09/24/pertarungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8ea5dde6607d1f572617720c62417485?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zen</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mirek</title>
		<link>http://sarstraku.wordpress.com/2011/09/16/mirek/</link>
		<comments>http://sarstraku.wordpress.com/2011/09/16/mirek/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Sep 2011 21:30:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adrozenahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anal-isis]]></category>
		<category><![CDATA[Jacques Derrida]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Lupa dan Gelak Tawa]]></category>
		<category><![CDATA[Milan Kundera]]></category>
		<category><![CDATA[Pharmakon]]></category>
		<category><![CDATA[The Book of Laughter and Forgetting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sarstraku.wordpress.com/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[SEBERAPA besarkah harga sebuah keyakinan? Barangkali tokoh Clementis, Menteri Luar Negeri Ceko era 1950an dalam novel Kitab Lupa dan Gelak Tawa karya Milan Kundera, tahu berapa besar harganya: tiang gantungan. Setelah itu, Kundera tidak lantas menangisi kematian tragis Clementis. Tidak pula ia mengutuk Gottwald&#8211;sang pemimpin Partai Komunis Ceko&#8211;sebagai seorang bejat karena telah menggantung sahabat “seperjuangannya” [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sarstraku.wordpress.com&amp;blog=5492424&amp;post=93&amp;subd=sarstraku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SEBERAPA besarkah harga sebuah keyakinan? Barangkali tokoh Clementis, Menteri Luar Negeri Ceko era 1950an dalam novel <em>Kitab Lupa dan Gelak Tawa</em> karya <em>Milan Kundera</em>, tahu berapa besar harganya: tiang gantungan.</p>
<p>Setelah itu, Kundera tidak lantas menangisi kematian tragis Clementis. Tidak pula ia mengutuk Gottwald&#8211;sang pemimpin Partai Komunis Ceko&#8211;sebagai seorang bejat karena telah menggantung sahabat “seperjuangannya” itu&#8211;yang telah memberinya topi bulu untuk melindungi kepalanya dari hujan salju. Pun ia tidak <em>ngotot</em> meng-kisah-kan betapa besar dan mulia jasa Clementis bagi lahirnya negara Komunis Cekoslowakia. Ia, lebih memilih membuat adegan lain untuk membaca adegan besar itu.</p>
<p><span id="more-93"></span>Mungkin, ia tahu, ini bukan lagi tentang Clementis, bukan Gottwald, bukan kuasa, bukan komunis, bukan kapitalis, bukan kemegahan, bukan invasi Rusia, bukan Ceko, bahkan bukan lagi tentang dirinya. Ini tentang dua hal: <em>ingatan</em> dan <em>keterputusan</em>. Sejarah dan kekinian. Lupa dan kuasa.</p>
<p>Gagasan itulah yang ia sematkan dalam tokoh <em>bayangan</em>-nya yang ia beri nama Mirek. Kundera tidak memberitahu kita tentang siapa Mirek sebenarnya. Ini aneh, seaneh kata “Mirek” itu sendiri. Dan justru inilah satu di antara sisi menarik dari sebuah karya fiksi. Mirek tiba-tiba hadir dalam imaji kita, dalam “kekinian”-nya yang tak lengkap.</p>
<p>Mirek digambarkan sebagai kekinian yang limbung. Kekinian yang gontai mencari bagian-bagian dari dirinya, potongan-potongan ketercecerannya. Kekinian yang diburu sekaligus memburu masa lalunya. Ia berpetualang sekaligus dipertualang. Dan memang kekinian selalu hadir secara tidak sempurna. Yang pada gilirannya, mendorongnya untuk memenuhi keterpotongan itu, kelimbungan itu, demi sebuah kelengkapan, ketakterputusan.</p>
<p>Dan itu semua menggiring Mirek pada sosok Zdena, wanita yang pernah ia selingkuhi duapuluh lima tahun yang lalu; wanita simpanan yang sama sekali tidak cantik namun digambarkan begitu &#8220;indah&#8221; dalam kenangan Mirek. Tak pelak, Zdena adalah masa lalu yang diburu sekaligus memburu Mirek.</p>
<p>Ingatan, kenangan, memori, senantiasa hadir sepotong-sepotong. Derrida menyebut ingatan sebagai <em>trace</em> atau jejak. Dan kehadiran ingatan yang selalu tidak utuh itu adalah akibat dari adanya erosi, tersebab kondisi naturanya yang terus saja<em> under erasure</em>. Ingatan adalah <em>pharmakon</em>, ia <em>remedy</em> sekaligus <em>poisonous</em>; obat sekaligus racun.</p>
<p>Dengan demikian, Zdena muncul sebagai sebilah pedang bermata dua. Zdena memiliki kualitas <em>remedy</em>, sebagai obat bagi Mirek. Karena ia memberi pelajaran tentang banyak hal. Satu di antaranya tentang bagaimana gaya bercinta yang lain dari gaya seorang intelektual yang seperti tengah mengadakan hubungan “ilmiah” dengan objek penelitiannya. [Tentunya, kita tahu bagaimana cara kerja seorang intelektual; ada subjek ada objek. Ada penjarakan, penilaian, analisis. Tak ada afeksi, tak ada spontanitas, dll].</p>
<p>Pendeknya, Zdena seolah mengajarkan tentang apa itu hidup dan bagaimana meneruskan hidup. Seolah, sedikit banyak wanita itu hadir seperti seorang ronggeng dalam novel <em>Ronggeng Dukuh Paruk</em> karya <em>Ahmad Thohari</em> yang tersohor itu. Meski hubungan itu hanya berlangsung selama tiga tahun, namun hingga duapuluh lima tahun berpisah, toh Mirek tetap tak bisa melupakan Zdena.</p>
<p>Seperti halnya kenangan, secara tak terelakkan Zdena pun hadir laksana racun, bisa, virus. Dan secara kocak, Kundera menggambarkan kualitas yang kedua ini secara sangat sederhana namun teramat kaya makna; salah satu yang Mirek benci pada diri Zdena adalah karena Zdena jelek. Zdena memiliki kualitas yang tidak memenuhi kriteria yang masuk dalam golongan wanita yang disebut sebagai “cantik” saat itu. Yakni, karena hidungnya yang besar. Dan hidung besar, dengan demikian, adalah noda.</p>
<p>Kala itu, hidung besar menjelma menjadi nila setitik yang akan merusak susu sebelanga. Sehingga, menjadi bahan cemoohan teman-teman Mirek, yang bukannya memiliki selingkuhan yang cantik tapi malah sebaliknya. [Barangkali, seperti wanita yang memiliki tubuh gemuk di masa kini]. Yang menjadi satu di antara sebab yang membuat Mirek ingin menghapus imaji Zdena dari daftar menu ingatannya.</p>
<p>Dari sini, seolah kita disuguhi <em>signifie</em> “cinta” bagi Kundera, yang dengan susah payah ia “bangun” dengan sangat luar biasa, baik dalam wujud representasi Mirek maupun Zdena, maupun representasi yang dibangun oleh adanya relasi keduanya.</p>
<p>Cinta dalam bahasa Kundera tidak lagi bermakna tunggal; nafsu. Cinta menjadi multitafsir; menjadi kaya dan memperkaya; ia nafsu sekaligus bukan nafsu; ia cemoohan sekaligus pujian; ia kekurangan sekaligus kelebihan; ia spirit sekaligus materi; ia adalah kemungkinan sekaligus kemustahilan. Cinta, bagi Kundera, adalah cinta dan sekaligus bukan cinta.</p>
<p>Menarik jika kita melihat bagaimana Kundera menulis. Ia seolah memahami betul logika dan kondisi natura fenomenon ke-hadir-an ingatan dalam kesadaran manusia. Lihatlah cara ia bertutur; numerik. Tapi, anehnya, seolah tidak lengkap, tidak runtut, lompat-lompat, pendek-pendek. Seakan ia hadir sebagai cuplikan-cuplikan, nukilan-nukilan, kerjapan-kerjapan, kedipan-kedipan. Kadang menyenangkan, kadang bikin jengkel. Di kali waktu rumit, di waktu lain begitu gamblang.</p>
<p>Adegan demi adegan menjelma seperti alur cerita dalam mimpi yang berlangsung begitu cepat dan tahu-tahu sudah berakhir. Berganti-ganti, tak lengkap, bertempo seperkerjapan mata. Tercerai berai. Terpotong-potong. Mungkin saja itu yang membuat kita seperti sulit memahami alur ceritanya secara utuh. Karena itu karya sastra. Tersebab<em> licentia poetica</em>-nya.</p>
<p>Dan memang begitulah; kisah itu memang tidak akan pernah utuh. Itu tugas saya, anda, kita untuk menyelesaikannya. Begitu pula dengan ingatan, kenangan, hidup. Satu menyambung lainnya, lainnya menyambung lain-lainnya dan begitu seterusnya. Seperti sebuah rantai, kata Derrida. Hingga ujung, hingga akhir, hingga kita sampai pada sesuatu yang kita sebut sebagai “mati”.</p>
<p>Kenangan, ingatan, memori, tentang masa lalu yang memburu sekaligus diburu itulah yang membuat Clementis berhadapan dengan tiang gantungan. Yang secara indah namun satire, dituliskan oleh Kundera sebagai [kaum tua] yang memburu perbuatan-perbuatan masa mudanya. Kenapa? Karena mereka juga diburu olehnya.</p>
<p>Lantas di manakah letak kuasa? Letak kuasa ada di sini, dalam ke-kini-an. Yang terancam erosi yang datang dari masa lalu, yang terepresentasi dalam diri Clementis, Mirek, dan tahanan-tahanan politik lainnya.</p>
<p>Itu pula yang membuat Kundera, menyematkan satu kalimat ampuh dalam lidah tokoh rekaannya itu; bahwa perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa. Lantas, bagi Kundera adakah seseorang yang benar-benar menjadi teman “seperjuangan”? Menjawab itu, sepertinya, Kundera hanya tertawa.</p>
<p>Mengapa? Karena [barangkali] ini bukan semata tentang <em>politica</em>. [*]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sarstraku.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sarstraku.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sarstraku.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sarstraku.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sarstraku.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sarstraku.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sarstraku.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sarstraku.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sarstraku.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sarstraku.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sarstraku.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sarstraku.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sarstraku.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sarstraku.wordpress.com/93/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sarstraku.wordpress.com&amp;blog=5492424&amp;post=93&amp;subd=sarstraku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sarstraku.wordpress.com/2011/09/16/mirek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8ea5dde6607d1f572617720c62417485?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zen</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ivan</title>
		<link>http://sarstraku.wordpress.com/2011/09/06/ivan/</link>
		<comments>http://sarstraku.wordpress.com/2011/09/06/ivan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Sep 2011 13:07:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adrozenahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anal-isis]]></category>
		<category><![CDATA[Ivan the Fool]]></category>
		<category><![CDATA[Leo Tolstoy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sarstraku.wordpress.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[ADA masanya ketika tiba-tiba kita menjadi seorang Ivan dalam dongeng “Ivan si Dungu” karya Leo Tolstoy. Ivan, dalam dongeng itu, digambarkan sebagai seorang yang sahaja. Rela menetap dan bekerja di kampung halamannya. Bekerja sebagai petani yang menggarap ladang keluarganya yang luas bersama adik perempuannya, Milania, yang menderita bisu sejak lahir. Pemandangan itu secara keras dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sarstraku.wordpress.com&amp;blog=5492424&amp;post=86&amp;subd=sarstraku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ADA masanya ketika tiba-tiba kita menjadi seorang Ivan dalam dongeng “Ivan si Dungu” karya Leo Tolstoy. Ivan, dalam dongeng itu, digambarkan sebagai seorang yang sahaja. Rela menetap dan bekerja di kampung halamannya. Bekerja sebagai petani yang menggarap ladang keluarganya yang luas bersama adik perempuannya, Milania, yang menderita bisu sejak lahir.</p>
<p>Pemandangan itu secara keras dan tanpa ampun, dikontraskan oleh Tolstoy dengan garis nasib kedua kakaknya, Simeon dan Tarras. Alkisah, Simeon merantau ke kota dan sukses menjadi tentara. Karena reputasinya, ia lantas mampu merebut hati dan memperistri seorang cantik jelita. Sedangkan Tarras, setelah berjudi nasib di kota, berhasil menjadi saudagar besar dan beristrikan seorang gadis kota nan rupawan.</p>
<p><span id="more-86"></span>Drama menegang. Simeon yang tentara itu, dikisahkan bangkrut. Istrinya yang aristokrat dan gemar bersolek ternyata menghabiskan kekayaannya. Si badan kekar ini pun mudik ke kampung. Meminta bagian kekayaan kepada ayahnya, <em>batiushka</em>, yang sebenarnya telah ia ambil sebelumnya. Entah karena sebab apa, Tarras si saudagar berbadan tambun itu, pun beringsut pulang menuntut hak kekayaan keluarga untuk dirinya.</p>
<p>Tidak mengejutkan. Toh kita juga telah diperingatkan Tolstoy sejak mula judul cerpen ini, bahwa Ivan seorang dungu dan tidak lebih dari itu. Sang Batiushka, yang telah menua dan tak mampu bekerja di ladang itu, menyerahkan keputusannya kepada Ivan. Ivan, karena ke-“dungu”-annya, menyilakan kedua kakaknya untuk mengambil tanah yang mereka inginkan. Lantas keduanya balik ke kota, memutar kapital untuk memajukan nasib masing-masing. Dan Ivan, dengan tanah yang tersisa, kembali menggarap tanah dengan cangkul dan keringat bersama adiknya yang bisu itu.</p>
<p>Mengutip Derrida, bisa saja kita membunuh Tolstoy, menganggapnya “mati” dalam cerpen “Ivan si Dungu” ini. Atau sebaliknya, bisa pula kita menganggap sang maestro Rusia&#8211;yang pernah menganggap buruk naskah-naskah Shakespeare itu&#8211;hidup dan hadir dan memainkan peran di dalamnya. Jika yang pertama kita pilih, kita betul-betul dihadapkan pada figur seorang “dungu” bernama Ivan. Yang karena kedunguannya ia dipermainkan habis-habisan oleh kedua kakaknya. Meski, tentu saja dengan sedikit keberuntungan-keberuntungan magis yang menyertainya.</p>
<p>Ivan dungu, tersebab tak menggunakan otaknya. Ivan dungu, alhasil terlampau sabar dan tak memanfaatkan amarahnya ketika di-“peras” berkali-kali oleh kedua kakaknya. Ivan dungu akibat pasivitasnya tatkala dinistakan oleh istri Simeon, sebab bau badannya yang busuk oleh keringat. Selebihnya, Ivan dungu karena memang ia digariskan sebagai seorang dungu.</p>
<p>Tapi justru, di akhir cerita, kita tahu karena kedunguannya itu secara ajaib ia lantas menjadi seorang <em>Tsar</em>. Walau tak lama setelah itu karena kedunguannya pula ia ditinggalkan para elite politiknya. Toh, rakyatnya yang setia terhadapnya tetap menganggapnya sebagai penguasa. Tentu saja, rakyat yang tetap setia itu pun “rakyat dungu”, dan mereka bekerja hanya dengan keringat dan tubuh, layaknya Ivan.</p>
<p>Dan entah bagaimana, seolah seperti keajaiban yang turun dari langit, kedunguan ternyata ada batasnya. Ivan yang dungu ini, di pengujung cerita berhasil membuat hukum, dan itulah satu-satunya hukum di kerajaannya. Bahwa, orang dengan kulit tangan yang kasar akan selalu mendapatkan tempat duduk di meja makan, sedangkan mereka yang memiliki tangan yang putih-lembut-mulus harus menunggu hingga perjamuan selesai dan baru boleh menikmati sisa makanan bersama para babi-babi di kandang.</p>
<p>Boleh dikata, itu satu di antara pembacaan saya atas cerpen Tolstoy di atas dengan metode membunuh atau menegasi pengarangnya. Laiknya memilah antara rasa manis dan buah yang menjadi asal rasa itu di dua wadah yang berbeda, lantas mendeskripsikan perbedaannya.</p>
<p>Namun pembacaan itu terasa tak lengkap. Seolah ada yang hilang ketika sang penulis, Tolstoy sendiri, tidak saya libatkan dalam pembacaan atas karya sastra yang apik dan agak berpanjang-panjang itu.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p style="text-align:left;">BAGI saya, rasanya terlalu kejam bila Tolstoy menyematkan kata “dungu” dalam diri Ivan. Kita tahu, Tolstoy bukan berasal dari kalangan petani seperti halnya Ivan. Ia berasal dari keluarga ningrat Rusia abad ke-19 yang memiliki tanah luas. Setelah tak rampung kuliah hukum dan bahasa ketimuran, ia mendaftar tentara, meski akhirnya ia keluar.</p>
<p>Ada satu peristiwa, meminjam kata-kata Zizek, sebagai satu di antara <em>melankolia</em> pembentuk dirinya yang membekas hingga akhir hayatnya. Ia menyaksikan drama eksekusi terbuka di Paris pada sekitar tahun 1857. Kepada sahabatnya, Vasily Botkin, ia menulis: “Sesungguhnya, negara adalah sebuah konspirasi yang didesain bukan hanya untuk mengeksploitasi, tetapi untuk memorak-porandakan moral warganya.. Dengan demikian, aku tidak akan pernah mengabdi pada pemerintahan apa pun di manapun!”</p>
<p>Dari sini saja, setidaknya sedikit kita tahu di mana Tolstoy berpijak. Dalam cerpen “Ivan si Dungu” atau “Ivan the Fool” itu, ia memutilasi habis-habisan dan tanpa ampun terhadap Ivan dan kediriannya. Dalam penyematan kata “dungu” dalam diri Ivan sedari di judul cerpen ini, Tolstoy telah memperingatkan pembaca betapa akan “menyedihkan”, “sengsara”, “polos”, &#8220;muram&#8221; dan “tertindas”-nya penokohan yang ia cipta dalam diri Ivan.</p>
<p>Dan nyatanya kita sendiri masih saja takjub. Dalam kemalangannya, Ivan masih “berusus panjang”. Ia masih merelakan kekayaan yang sudah menjadi miliknya untuk ia bagikan berkali-kali kepada kedua saudaranya. Bahkan ketika Ivan disuruh memilih antara kerja keras dan kerja cerdas, ia tetap memilih yang pertama. Ia menolak menimbun kekayaan berupa koin-koin emas, dan tetap ingin hidup dengan makanan-hari-ini-untuk-hari-ini.</p>
<p>Tapi ada yang menarik di sini. Tolstoy adalah seorang asketik. Kroptkin menyebutnya anarkis anti-kekerasan, dan spiritualis dan seorang pasifis. George Lukacs menyebutnya sebagai sastrawan marxis. Namun, ia memainkan politik periferal yang dalam pembacaan hari ini, bisa dibilang sebagai penganjur aksi konservasi atas berlangsungnya dominasi simbolis.</p>
<p>Ivan, digambarkan sebagai bodoh dari <em>sono</em>-nya. Ia menggarap tanah keluarganya bersama adik perempuannya yang bisu sejak lahir. Dan, betapa lengkap penderitaan Ivan. Ia dungu, tapi ia mengakui dirinya dungu secara individual maupun sosial. Ketika kedua saudaranya menganggap ia dungu, ia menerima. Bahkan ketika ia menjadi seorang <em>Tsar</em>, rakyatnya yang juga dungu, pun menganggapnya dungu. Sebuah anekdot yang khas Tolstoy, yakni ketika orang dungu masih menyisakan sisa ruang di otaknya untuk menganggap “yang lain” sebagai dungu.</p>
<p>Lebih jauh, sedikit menyerempet analisis Bourdieu, kedunguan itu, barangkali berasal dari tiadanya <em>libido dominandi</em>. Ivan dan rakyatnya dianggap dungu oleh sang <em>Iblis Tua</em>, karena tidak memiliki hasrat untuk berkuasa. Bahkan ketika sang Iblis menawarkan kompetensi-kompetensi intelektual agar Ivan dan rakyatnya bisa hidup lebih layak. Dan anehnya, Ivan menolak!</p>
<p>Ivan, dengan demikian, diketahui dan mengetahui, diakui dan mengakui, bahwa dirinya dungu. Pada poin ini, Bourdieu boleh bilang, Tolstoy telah melakukan kekerasan simbolis terhadap Ivan, dan Ivan-Ivan lainnya di muka bumi. Yakni, dengan kebodohan, kedunguan, orang tetap bisa menang. Menang atas apa atau siapa? Menang atas iblis. Dan siapa atau apakah iblis? Sialnya, Tolstoy bungkam atas itu.</p>
<p>Tak ayal jika Tolstoy disebut sebagai seorang spiritualis asketis. Namun, di sisi lain, Tolstoy telah membuat orang tertindas seperti Ivan tak menyadari bahwa dirinya tertindas. Kecuali di akhir cerita, saat ia membuat hukum yang satu-satunya ada di kerajaannya. Bahwa mereka yang tidak bekerja dengan tangannya, tidak akan mendapat makanan kecuali makanan sisa!</p>
<p>Terlepas dari itu semua, Tolstoy adalah seorang sufi. Ia seorang humoris yang mampu menertawakan orang di sekitarnya dan terutama dan bagian terpentingnya, adalah menertawai dirinya. (*</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sarstraku.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sarstraku.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sarstraku.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sarstraku.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sarstraku.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sarstraku.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sarstraku.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sarstraku.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sarstraku.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sarstraku.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sarstraku.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sarstraku.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sarstraku.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sarstraku.wordpress.com/86/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sarstraku.wordpress.com&amp;blog=5492424&amp;post=86&amp;subd=sarstraku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sarstraku.wordpress.com/2011/09/06/ivan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8ea5dde6607d1f572617720c62417485?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zen</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kota Pelan</title>
		<link>http://sarstraku.wordpress.com/2011/06/18/kota-pelan/</link>
		<comments>http://sarstraku.wordpress.com/2011/06/18/kota-pelan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Jun 2011 15:09:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adrozenahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sarstraku.wordpress.com/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[Sore ini saya bertemu Kafi Kurnia. Di semacam &#8216;toko&#8217;-nya yang &#8216;rumit&#8217; di Jalan Magelang Km 8. Toko itu baru ia resmikan siang tadi. Saya tidak kenal Kafi Kurnia secara pribadi. Hanya saja saya pernah mendengar acaranya di radio Trijaya. Tapi satu hal yang saya catat hari ini. Bahwa bukan hanya saya yang menganggap budaya pelan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sarstraku.wordpress.com&amp;blog=5492424&amp;post=78&amp;subd=sarstraku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sore ini saya bertemu Kafi Kurnia. Di semacam &#8216;toko&#8217;-nya yang &#8216;rumit&#8217; di Jalan Magelang Km 8. Toko itu baru ia resmikan siang tadi.</p>
<p><span id="more-78"></span>Saya tidak kenal Kafi Kurnia secara pribadi. Hanya saja saya pernah mendengar acaranya di radio Trijaya.</p>
<p>Tapi satu hal yang saya catat hari ini. Bahwa bukan hanya saya yang menganggap budaya pelan itu kemewahan. Melainkan orang seperti Kafi Kurnia juga menganggap demikian.</p>
<p>&#8220;Djogdjakarta: The City of Slow&#8221;, demikian ungkapan penghubung antara imaji &#8216;toko&#8217; miliknya dengan suasana Jogja. Meski kurang berima tapi cukup mewakili ruh kota Jogja. Menjadi pelan, menjadi Jogja, menjadi Istimewa.</p>
<p>Budaya cepat, tentang kecepatan, lhas-lhes, adalah napas peradaban modern. Berita cepat, motor cepat, pesawat, jalan cepat, dan semua yang serba cepat. Artinya menjadi lamban adalah tidak modern.</p>
<p>Menariknya, Kafi sore tadi berujar, budaya pelan akan menjadi tren masyarakat modern di masa depan. Karena, yang dicari-cari oleh kebanyakan orang adalah waktu luang.</p>
<p>Saya jadi teringat hidup di desa (dusun) kelahiran saya. Begitu banyak waktu luang. Begitu mewahnya kehidupan. Bernapas dengan alam, hidup secara seimbang, dan mati secara gampang.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sarstraku.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sarstraku.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sarstraku.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sarstraku.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sarstraku.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sarstraku.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sarstraku.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sarstraku.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sarstraku.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sarstraku.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sarstraku.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sarstraku.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sarstraku.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sarstraku.wordpress.com/78/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sarstraku.wordpress.com&amp;blog=5492424&amp;post=78&amp;subd=sarstraku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sarstraku.wordpress.com/2011/06/18/kota-pelan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8ea5dde6607d1f572617720c62417485?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zen</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mbak Karti dan Sapu Lidinya</title>
		<link>http://sarstraku.wordpress.com/2011/01/30/mbak-karti-dan-sapu-lidinya/</link>
		<comments>http://sarstraku.wordpress.com/2011/01/30/mbak-karti-dan-sapu-lidinya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Jan 2011 18:00:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adrozenahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Kos]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sarstraku.wordpress.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[PAGI MASIH buta. Mbak Karti sudah mengosek-kosekkan sapu lidi di atas tanah halaman belakang kos-kosan kami. Sebuah alaram pagi yang terdengar merdu di telinga. Meski tak pernah berhasil bikin satu pun penghuni kos terbangun lantaran sudah kelewat terbiasa. Halaman itu luas jua. Seukuran dua kali lapangan futsal. Di tengahnya ditumbuhi dua pohon rambutan dan dua [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sarstraku.wordpress.com&amp;blog=5492424&amp;post=67&amp;subd=sarstraku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PAGI MASIH</strong> buta. Mbak Karti sudah mengosek-kosekkan sapu lidi di atas tanah halaman belakang kos-kosan kami. Sebuah alaram pagi yang terdengar merdu di telinga. Meski tak pernah berhasil bikin satu pun penghuni kos terbangun lantaran sudah kelewat terbiasa.</p>
<p>Halaman itu luas jua. Seukuran dua kali lapangan futsal. Di tengahnya ditumbuhi dua pohon rambutan dan dua pohon kelengkeng. Keempat-empatnya berderet beraturan. Kalau tidak ada pepohonan itu, halaman belakang pasti sudah jadi lapangan futsal betulan.</p>
<p><span id="more-67"></span>Kata mbak Karti dua pohon kelengkeng itu tak pernah bisa berbuah. Karena dua-duanya berjenis kelamin sama. &#8220;Kalau <em>enggak</em> laki-laki semua <em>ya</em> perempuan semua,&#8221; ia menjelaskan di satu hari. Sedangkan dua pohon rambutan yang tumbuh di sebelahnya dapat dipastikan setidaknya berbuah tiap tahun sekali.</p>
<p>Empat pohon itulah yang menjadi pusat pekerjaan mbak Karti saban hari. Mengosek-kosek halaman belakang kos. Membersihkan dedaunan. Mengumpulkannya di ujung. Lantas membakarnya. Kalau tak kunjung dibakar, ayam-ayam tetangga akan berulah.</p>
<p>Sepertinya pekerjaan itu sudah jadi kesenangan mbak Karti dari dulu. Sebab tampaknya tak ada pekerjaan lain ia punya. Suami pun ia tak ada. Jadinya menyapu halaman belakang sudah menjadi kebutuhan. Seolah hari takkan pernah mampu ia hadapi tanpa ayunan sapu lidi dan goyangan tubuh mengikuti irama awal hari.</p>
<p>Yang paling ia gemari dari kegiatan pagi hari ini adalah sesi bakar sampah. Jika ia membakar di pagi hari mungkin tak terlalu masalah. Yang jadi persoalan adalah kalau ia melakukan kegiatan kesukaannya itu di sore hari.</p>
<p>Apalagi jika dedauanan yang ia bakar masih basah dan bercampur sampah plastik. Bilamana api tak kunjung menyala, asap pun membubung jua. Yang tak mengenakkan, asap itu masuk melalui celah-celah jendela kamar kos dan bikin sesak napas. Kalau sampah dibakar pada sore hari, hingga tengah malam pun terkadang asap enggan hengkang.</p>
<p>Berkali-kali kami protes. Namun kejadian itu terus saja berulang. Akhirnya kami pun terbiasa. Toh sampah itu tak dibakar setiap hari. Jadi kami masih bisa bernapas lega. Apalagi tanpa mbak Karti, halaman belakang kos kami mungkin akan seperti hutan belantara. (*)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sarstraku.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sarstraku.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sarstraku.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sarstraku.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sarstraku.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sarstraku.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sarstraku.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sarstraku.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sarstraku.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sarstraku.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sarstraku.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sarstraku.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sarstraku.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sarstraku.wordpress.com/67/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sarstraku.wordpress.com&amp;blog=5492424&amp;post=67&amp;subd=sarstraku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sarstraku.wordpress.com/2011/01/30/mbak-karti-dan-sapu-lidinya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8ea5dde6607d1f572617720c62417485?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zen</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sepotong Kisah Tentang Supro</title>
		<link>http://sarstraku.wordpress.com/2011/01/22/sepotong-kisah-tentang-supro/</link>
		<comments>http://sarstraku.wordpress.com/2011/01/22/sepotong-kisah-tentang-supro/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Jan 2011 17:44:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adrozenahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sarstraku.wordpress.com/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[NAMANYA SUPRO. Kamarnya di ujung. Saban hari kerjanya merenung. Tapi entah bagaimana, ia tak pernah terlihat linglung. Lelaki berambut panjang kriwil-kriwil itu adalah tetua di tempat indekos kami. Selain banyak tahu tentang banyak hal, ia tempat yang sesuai untuk mengadu. Terutama kala nasib sedang tak berkawan dengan karib. Tapi suratan takdir tak selalu berpihak pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sarstraku.wordpress.com&amp;blog=5492424&amp;post=60&amp;subd=sarstraku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>NAMANYA SUPRO. Kamarnya di ujung. Saban hari kerjanya merenung. Tapi entah bagaimana, ia tak pernah terlihat linglung.</p>
<p>Lelaki berambut panjang kriwil-kriwil itu adalah tetua di tempat indekos kami. Selain banyak tahu tentang banyak hal, ia tempat yang sesuai untuk mengadu. Terutama kala nasib sedang tak berkawan dengan karib.</p>
<p><span id="more-60"></span>Tapi suratan takdir tak selalu berpihak pada kita, bukan? Begitu pula pada Supro teman kami ini. Seberapa pun baiknya ia pada sesama manusia, toh jodoh tak kunjung tiba. Hingga hari ini, di usianya yang sudah kepala empat tak satu pun gadis yang pernah ia perkenalkan pada kami.</p>
<p>Di satu malam, tiba-tiba seorang perempuan mendatanginya. Dalam temaram rambutnya bercahaya. Panjangnya sebahu. Hidungnya mancung. Wajahnya, ah.. lancip menyegitiga. Dan matanya, matanya, bila ia lirikkan matanya begitu.. tajam menyalang.</p>
<p>Itu dua hari lalu. Setelah malam itu ia tak lagi datang. Kami tak jua melihatnya. Dan kawan kami yang baik hati ini kembali murung ditelan malam.  Dari senja hingga fajar tiba, ia tenggelam dalam tembang. Dalam tembang.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sarstraku.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sarstraku.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sarstraku.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sarstraku.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sarstraku.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sarstraku.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sarstraku.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sarstraku.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sarstraku.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sarstraku.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sarstraku.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sarstraku.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sarstraku.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sarstraku.wordpress.com/60/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sarstraku.wordpress.com&amp;blog=5492424&amp;post=60&amp;subd=sarstraku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sarstraku.wordpress.com/2011/01/22/sepotong-kisah-tentang-supro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8ea5dde6607d1f572617720c62417485?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zen</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gadis yang Ditelan Hujan</title>
		<link>http://sarstraku.wordpress.com/2011/01/01/gadis-yang-ditelan-hujan/</link>
		<comments>http://sarstraku.wordpress.com/2011/01/01/gadis-yang-ditelan-hujan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Jan 2011 19:11:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adrozenahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Hujan]]></category>
		<category><![CDATA[Tribun Jogja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sarstraku.wordpress.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[DI KURSI kayu panjang, depan kafe sebuah sudut perempatan itu aku mengamati dan diamati hujan. Ia memandangku. Lama. Hingga ia benar-benar fana. Menyisakan genangan kecil di hadapanku. Di situ pula aku pernah duduk berdua dengannya, perempuan muda dengan sepatu high heels warna jingga. Sesekali, sambil bicara tentang hujan yang jatuh di depan mata kami, ia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sarstraku.wordpress.com&amp;blog=5492424&amp;post=55&amp;subd=sarstraku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>DI KURSI</strong> kayu panjang, depan kafe sebuah sudut perempatan itu aku mengamati dan diamati hujan. Ia memandangku. Lama. Hingga ia benar-benar fana. Menyisakan genangan kecil di hadapanku.</p>
<p><span id="more-55"></span>Di situ pula aku pernah duduk berdua dengannya, perempuan muda dengan sepatu <em>high heels</em> warna jingga. Sesekali, sambil bicara tentang hujan yang jatuh di depan mata kami, ia memperbaiki tatanan rambutnya yang sedikit basah. Aroma mawar memburu dan membelai tengkukku. Lalu melela. Angin bersama hujan rintik sore itu membawanya.</p>
<p>&#8220;Aku ingin pulang, aku kangen anakku,&#8221; ujar perempuan itu di satu hujan.<br />
&#8220;Tapi aku tak bisa,&#8221; katanya sambil menatapku lekat-lekat.</p>
<p>Aku kenal betul perempuan yang duduk di sampingku itu. Karena kami sudah seperti saudara. Ia putri semata wayang keluarga Siswojudhomihardjo. Dan aku tinggal di rumah itu sejak kecil. Keluarga itu mengangkatku sebagai anak. Cukup rumit ceritanya. Mungkin lain kali saja aku mengisahkan cerita itu padamu. Kami sering bermain bersama. Melakukan banyak hal berdua. Memandang semuanya dari sudut pandang sama. Kecuali tentang gaya hidup masing-masing.</p>
<p>Namanya Marya. Usianya terpaut satu tahun di atasku. Otomatis aku memanggilnya <em>mbak</em> dan dia memanggilku <em>adik</em>. Ya, seingatku dulu cara pandangnya memang lebih dewasa dibanding aku. Ia juga mampu bikin keputusan secara cepat. Sementara aku, menurut mami, lebih penyabar. Itu buah dari didikan keras papi dan mami semasa beliau berdua masih hidup.</p>
<p>Ketika kami beranjak dewasa, ia meneruskan sekolah ke Prancis. Mengambil matakuliah filologi, satu fokus studi yang tak begitu papi sukai. &#8220;Untuk apa kau ambil matakuliah jauh-jauh untuk hal-hal tak berguna seperti itu? Buang-buang duit saja,&#8221; ujar papi di suatu hari menjelang keberangkatan mbak Marya ke Paris.</p>
<p>Papi seorang pengusaha. Dari dulu dia ingin agar mbak Marya meneruskan usaha yang telah papi rintis sejak sebelum bertemu mami. Ia ingin putrinya itu menjadi kuat, setangguh papi yang membangun sendiri jaringan bisnisnya di kota kecil kami.</p>
<p>Sementara aku disuruh sekolah saja di dalam negeri. &#8220;Biar bisa bikin usaha sendiri,&#8221; ujar papi sembari menepuk-tepuk bahuku.</p>
<p>Aku tak terlalu mengkhawatirkan itu. Berulangkali, sewaktu kami masih kecil, aku ingat betul dongeng-dongeng yang mami atau papi ceritakan menjelang tidur. Kisah-kisahnya selalu tentang seorang anak yang harus keluar dari rumahnya. &#8220;Harus, karena itu adalah keniscayaan,&#8221; kata papi. Berpisah dari orangtuanya untuk menempuh pendidikan di tempat yang jauh, berjeda dari kenyamanan rumah adalah langkah yang tepat untuk bisa bertahan hidup di masa depan. Bukan terus hidup dengan segala kemudahan.</p>
<p>Meski temanya itu-itu saja namun kami tetap menikmatinya. Baik papi maupun mami memang pandai menggubah cerita. Sesekali diselipi adegan lucu yang mengundang tawa. Hanya diubah latar tempat, waktu, atau tokohnya, kami pun terpesona pada jalan cerita. Hingga terlelap dan cerita itu pun terbawa ke dalam mimpi. Dan kami pun merasa menjadi tokoh pelaku dalam mimpi itu.</p>
<p>Keberangkatan mbak Marya memundurkan kesehatan papi dan mami. Kepergian putri kesayangan papi itu, menurutku, juga salah papi dan mami sendiri. Meski sedari kecil kami telah dididik agar mandiri, toh mereka berdua yang tak tega hidup terpisah dari putrinya. Sementara keinginan mbak Marya sudah seperti air bah yang tak lagi bisa dibendung.</p>
<p>Praktis aku sendiri yang harus pergi pulang dalam waktu cepat. Kota tempat aku kuliah memang tak jauh dari rumah mami dan papi. Sekitar empat jam perjalanan keretapi. Tapi kehadiranku tak begitu membuat hati papi dan mami terobati. Bukan karena kurang sayangnya mereka padaku, tapi karena aku selalu ada di sisi mereka. Bukankah kerinduan selalu hadir saat yang dirindui tak kunjung tiba? Dan semakin ia berjeda kian tebal pula kadar kerinduan kita? Walhasil, setiap kali aku pulang, mbak Marya-lah yang selalu ditanyakan.</p>
<p>Mbak Marya jarang sekali mengirim kabar. Nomor ponselnya pun sering berganti-ganti. Tak jelas apa maksudnya. Aku pun tak berani mengingatkan hal itu padanya. Baik melalui YM atau email. Yang berani aku lakukan adalah berbohong kepada mami dan papi, bahwa mbak Marya baik-baik saja di Paris, merindukan kehangatan rumah dan sangat ingin pulang ke tanah air.  Ia tak bisa pulang karena ini dan itu. Kukarang-karang sendiri hingga mereka percaya. Setidaknya, aku berharap, dengan begitu papi dan mami tak terlalu risau.</p>
<p>Namun mata batin orangtua konon lebih tajam dari sebilah pedang. Selihai apa pun aku berbohong&#8211;dengan tujuan untuk menghibur tentu saja&#8211;papi dan mami tetap saja tak kian membaik kesehatannya. Perusahaan keluarga pun kian menyusut. Banyak relasi yang keluar dan tak sedikit yang malah menjadi duri dalam daging. Kesehatan papi dan mami merosot seiring dengan kehancuran bisnis keluarga.</p>
<p>DI KURSI kayu panjang, depan kafe sebuah sudut perempatan itu aku duduk berdua dengannya, perempuan muda dengan sepatu <em>high heels</em> warna jingga.</p>
<p>Ini adalah setahun sepeninggal papi dan setahun lebih enam bulan sepeninggal mami. Perempuan itu, mbak Marya, masih terlihat muda seperti yang kukenal dulu. Bahkan sekarang, menurutku, ia lebih memukau. Tak sampai sepuluh menit kami duduk di kursi panjang itu, kerap mata lelaki mencuri-curi pandang kepadanya. Seolah Paris telah memahatnya menjadi kian memesona.</p>
<p>&#8220;Aku minta maaf padamu, sekaligus mengucapkan terima kasih&#8221;</p>
<p>Aku diam saja. Suaranya tetap lembut seperti dulu. Agak mendayu. Setengah bergetar. Ia mengatakan itu setelah air matanya berlomba jatuh bersama rintik hujan di malam itu.</p>
<p>&#8220;Aku tadi sudah ke peristirahatan papi dan mami, tapi aku yakin itu tidak akan cukup&#8221;</p>
<p>Aku menawarkan sapu tangan kepadanya. Setelah mengeringkan air mata ia merebahkan kepalanya di pundakku. Aku tetap bergeming. Membeku. Hatiku dongkol. Untunglah cahaya kafe cukup redup. Mengaburkan garis wajahku yang mengeras karena menahan perasaan antara marah dan ingin tahu.</p>
<p>Beberapa botol bir telah mengering di meja. Kepalaku terasa sedikit berputar. Tapi aku masih bisa menahannya. Kafe sudah mulai hening. Malam kian pekat. Hujan rintik enggan berhenti.</p>
<p>&#8220;Aku ingin pulang, aku kangen anakku,&#8221; ujarnya lagi.<br />
&#8220;Tapi aku tak bisa,&#8221; katanya sambil menatapku lekat-lekat.<br />
&#8220;Besok pagi-pagi sekali aku harus ke Amsterdam, hari berikutnya ke Venesia, Zimbabwe, keliling dunia&#8221;</p>
<p>Ia menyeka matanya yang sembab. Tarikan napasnya begitu berat.<br />
&#8220;Kau tahu kini aku bukan milikku. Aku sudah menjadi milik banyak orang. Aku adalah mesin yang harus berputar tiap kali tombol ditekan&#8221;</p>
<p>Ia beranjak dari kursi itu. Limbung ia melangkah menuju pintu.</p>
<p>&#8220;Satu yang kumohon darimu, jangan pernah membenciku. Aku hanya menjalani pilihanku, meski itu berat bagimu&#8221;</p>
<p>Tak berapa lama sebuah limosin datang menjemput. Seorang lelaki berbadan tegap menyilakannya masuk. Aku masih melihat matanya berair. Ia terus memandangku dari kaca limosin yang terbuka. Hingga mobil itu menjauh lenyap ditelan hujan.</p>
<p>Lirih terdengar sebuah lagu. Aku hapal judulnya, liriknya, apalagi penyanyinya.</p>
<p>Di kursi kayu panjang, depan kafe sebuah sudut perempatan itu aku terduduk. Hujan tak jua berhenti. Aku mengamatinya dan ia mengamatiku. Lama. Hingga ia benar-benar fana. Menyisakan genangan kecil di hadapanku.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sarstraku.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sarstraku.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sarstraku.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sarstraku.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sarstraku.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sarstraku.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sarstraku.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sarstraku.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sarstraku.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sarstraku.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sarstraku.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sarstraku.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sarstraku.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sarstraku.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sarstraku.wordpress.com&amp;blog=5492424&amp;post=55&amp;subd=sarstraku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sarstraku.wordpress.com/2011/01/01/gadis-yang-ditelan-hujan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8ea5dde6607d1f572617720c62417485?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zen</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mata</title>
		<link>http://sarstraku.wordpress.com/2011/01/01/mata/</link>
		<comments>http://sarstraku.wordpress.com/2011/01/01/mata/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Jan 2011 11:56:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adrozenahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Sakit Mata dr Yap]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sarstraku.wordpress.com/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[SEORANG GADIS usia 20an gundah di atas kursi antrean depan ruang periksa mata. Siang itu lentik tangannya mengusap-usap mata kiri yang berair dengan tisu warna putih. Ia tak datang sendiri. Duduk di samping kirinya perempuan muda yang terlihat lebih dewasa tengah sibuk memijit-pijit telepon selular di genggaman. Sesekali ia memperlihatkan sesuatu pada kawan di sisi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sarstraku.wordpress.com&amp;blog=5492424&amp;post=45&amp;subd=sarstraku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SEORANG GADIS</strong> usia 20an gundah di atas kursi antrean depan ruang periksa mata. Siang itu lentik tangannya mengusap-usap mata kiri yang berair dengan tisu warna putih.</p>
<p>Ia tak datang sendiri. Duduk di samping kirinya perempuan muda yang terlihat lebih dewasa tengah sibuk memijit-pijit telepon selular di genggaman. Sesekali ia memperlihatkan sesuatu pada kawan di sisi kanannya yang tengah memegangi mata kiri itu.</p>
<p><span id="more-45"></span>Seolah tak mau kalah dari kawannya, gadis manis bermata sipit yang mata kirinya ia tutupi pakai tisu itu mengambil kotak minuman sari buah dari dalam tas. Dicublesnya kotak itu dengan sedotan lantas diminumnya. Barangkali itu hal yang mampu ia lakukan. Memaksimalkan saraf indera pencecap untuk menipu saraf indera penglihatan yang tengah menderita.</p>
<p>Tak lama berselang, datang seorang gadis lain seusianya. Kali ini ia duduk tak jauh dari tempat duduk saya. Gadis berambut lurus sebahu itu datang dengan mengenakan kacamata hitam bertangkai plastik transparan.<br />
Barangkali hal itu sengaja ia lakukan untuk menyembunyikan tampilan matanya yang tengah tak sedap bila dipandang orang.</p>
<p>Dan benar. Setelah ia merasa nyaman dengan posisi duduknya, ia membuka kacamata hitam itu. Mata yang bengkak seujung jari menyembul dari kedua sisi kacamata. Ada memar merah di bagian bawah pelupuk matanya.</p>
<p>Namun saya tak habis pikir. Bagaimana bisa matanya yang bengkak itu nyaman untuk mengecek pesan singkat di telepon selularnya. Ah, telepon selular sudah seperti gula-gula. Ia senantiasa ada di saku kita setiap kali kita menginginkannya. Telepon selular seolah menjelma benda pemanis dalam detik-detik pahit hidup kita.</p>
<p>Itulah sekelumit gambaran susahnya orang yang sedang sakit mata yang sempat saya amati di Rumah Sakit Mata &#8220;dr Yap&#8221; Yogyakarta. Di situ anda akan bertemu sejumlah pengidap penyakit mata. Mulai dari yang sekadar belekan sampai yang matanya harus diperban. Yang bengkak matanya juga ada.</p>
<p>Ada pemandangan menarik di sini. Setiap kali pasien keluar dari ruang pemeriksaan, mereka selalu memejamkan mata. Barangkali karena obat tetes menimbulkan rasa perih. Ditambah dengan mengenakan kacamata hitam pekat, anda pasti akan mirip penyanyi dangdut era &#8217;90an Asep Irama yang masyhur itu.</p>
<p>Kalau sudah begini, anda butuh bantuan orang lain sekeluar dari ruang pemeriksaan tersebut. Paling tidak, anda memerlukan uluran tangan perawat. Agar ia mengantar anda ke kursi di ruang tunggu semula.</p>
<p>Sampai di sini, anda boleh membayangkan apa jadinya bila mata anda tak bekerja dengan baik. Mata adalah indera paling vital di antara indera lainnya. Mata merupakan medium pertama yang memberi informasi pada otak tentang apa yang tengah terjadi di sekitarnya.</p>
<p>Tanpa mata, anda akan sulit menggambarkan warna, tingkat cahaya, atau ekspresi orang lain yang berada di sekeliling anda. Bahkan tulisan ini takkan bermakna tanpa peran mata anda. Mata yang Tuhan tempel di bagian muka wajah anda itu adalah penghubung anda pada dunia. Mata adalah satu di antara jendela dunia.</p>
<p>Jika mata terganggu sedikit saja, maka penilaian orang terhadap lingkungan sekitarnya akan berkurang. Begitu juga dengan anda. Maka sayangilah mata anda. Dan bersyukurlah bahwa hingga detik ini organ indera mirip kelereng itu masih berada di tempatnya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sarstraku.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sarstraku.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sarstraku.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sarstraku.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sarstraku.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sarstraku.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sarstraku.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sarstraku.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sarstraku.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sarstraku.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sarstraku.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sarstraku.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sarstraku.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sarstraku.wordpress.com/45/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sarstraku.wordpress.com&amp;blog=5492424&amp;post=45&amp;subd=sarstraku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sarstraku.wordpress.com/2011/01/01/mata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8ea5dde6607d1f572617720c62417485?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zen</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
